Tentang Saya

Saturday, January 18, 2014

WOMEN AND SPORT

0 comments
Sport_Medicine_Online

KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
Wanita Dan Olahraga



Karakteristik Fisiologis Olahragawan Wanita  

         ​Dalam banyak hal wanita menanggapi latihan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh pria. Bagaimanapun jenis kelamin akan berbeda dalam faktor anatomis dan fisiologis yang berhubungan dengan latihan tertentu. Dalam kaitan dengan penampilan olahraga, perbedaan jenis kelamin secara fisiologis yang terpenting terletak pada ukuran tubuh, kekuatan otot, komposisi tubuh dan fungsi kardiovaskuler, Pate, (1993)

2.1.1 Ukuran Tubuh
        ​Setelah berusia kira-kira 13 tahun pria cenderung menjadi lebih tinggi dan lebih berat dari wanita. Pada orang dewasa rata-rata pria lebih tinggi 5 inci dan lebih berat 30-40 pon dari rata-rata wanita, Wilmore (1982). Sedangkan Fox (1993) mengatakan jika dibandingkan dengan rata-rata laki- laki dewasa, perempuan dewasa 3-4 inci lebih pendek.Perbedaan dalam ukuran tubuh memberi keuntungan yang nyata pada pria dalam olahraga tertentu yang berhubungan langsung dengan tinggi badan misalnya bola basket dan massa tubuh misalnya nomor-nomor berat badan dalam atletik.Kerangka pada wanita dan juga kepadatan tulangnya kira- kira 25% lebih rendah dari pada pria dan rasio tuas sendi-endinya secara fungsional juga kurang efektif. Capsula sendi juga lebih lunak dan banyak diantaranya juga lebih kendur, yang merupakan tanda lebih rendahnya toleransi terhadap stres-stres fisik yang ekstrim dan pada umumnya cenderung lebih mudah cedera. Contoh yang sering terjadi adalah sub-luxatio sendi talo-tibial (sendi untuk melompat) pada wanita.

         Pada orang dewasa, dimensi fisik pria rata-rata 7-10% lebih besar daripada wanita. Perbedaan ukuran itu pada anak-anak sangat sedikit sampai usia pubertas, di kala itu untuk sementara anak-anak perempuan bahkan lebih tinggi dan lebih besar daripada anak laki-laki. Hal ini disebabkan awal pubertas yang lebih dini pada anak perempuan (9-13 tahun)dari pada anak laki-laki (10-14 tahun) dengan waktu yang lebih panjang pula. Dibawah pegaruh hormon pria, testoteron, laki-laki tumbuh lebih tinggi, dengan gelang bahu yang lebih luas, panggul yang lebih sempit dan tungkai yang lebih panjang. Wanita, melalui pengaruh hormon estrogen berkembang dengan bahu yang lebih sempit, panggul yang lebih luas realatif terhadap tinggi badannya dan “carrying angle” yang lebih besar pada sendi siku, yang mengakibatkan kerugian mekanik bagi lari dan melempar.

2.1.2 KomposisiTubuh
       ​Wanita normal memang lebih kecil dan lebih ringan daripada pria, rasio proporsi lemak terhadap otot wanita adalah 18:42. Artinya, secara relatif jumlah otot pada pria lebih banyak daripada wanita, sehingga jelaslah bahwa wanita tidak mungkin menyamai pria dalam hal kekuatan maksimalnya. Hormon Oestrogen pada wanita berperan dalam penimbunan lemak pada tempat-tempat tertentu selama masa pubertas, sedangkan testosteron merangsang perkembangan otot pada pria. Bila dinyatakan dalam persentasi dari berat badannya, wanita dewasa memiliki lemak sekitar dua kali lebih banyak daripada pria. 
      
        Menuut Pate, (1993) pada orang dewasa muda persentasi lemak tubuh rata-rata 25% untuk wanita dan 15% untuk pria. Perbedaan ini terjadi karena berat lemak absolut pada wanita lebih besar dibandingkan dengan berat tanpa lemak. Perbedaan jenis kelamin dalam komposisi tubuh telah diteliti pada olahrgawan maupun bukan olahragawan. Meskipun olahragawan dari kedua jenis kelamin cenderung lebih kurus (tidak berlemak) daripada seseorang yang tidak banyak bergerak, olahragawan wanita biasanya terlihat gemuk apabia dibandingkan dengan olahragawan pria, Wells dan Plowman (1983).

2.1.3 Fungsi Kardiovaskuler
      ​Fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa potensi rata-rata wanita untuk pengangkutan oksigen lebih rendah daripada pria. Wanita menunjukkan konsentrasi hemoglobin darah yang rendah daripada pria dan mereka cenderung memiliki jantung yang lebih kecil meskipun besar jantung relatif terhadap berat badan. Giri (2007) pria mempunyai darah yang kurang lebih satu liter lebih banyak daripada wanita, dengan kadar hemoglobin yang lebih tinggi pula. Fox, (1993) mengatakan perbedaan volume darah dan konsentrasi hemoglobin antara pria dan wanita hanya sedikit di usia muda. sebelum puberitas dan terdapat perbedaan yang signifikan setelah masa puberitas. Jika dibandingkan antara pria dan wanita tidak terlatih, volume darah wanita sekitar 25% lebih rendah dan sekitar 12% setelah masing-masing dilatih.Ukuran absolut jantung wanita kelompok umur 20-30 tahun tidak terlatih, lebih dari 200 cc lebih kecil daripada jantung pria yang juga tidak terlatih pada kelompok umur yang sama. Konsentrasi hemoglobin yang rendah berhubungan dengan kapasitas pengiriman oksigen yang rendah dalam darah dan jantung yang kecil berhubungan dengan volume maksimum dan keluaran jantung yang kecil pula. 
        Volume normal jantungpria kurang lebih 800 cc, sedangkan wanita 580 cc. Perbedaan ini semakin jelas pada olahraga power dengan nilai pada pria 900 cc, sedang wanita 700 cc. Dimensi jantung pada pria adalah lebih besar sehingga volume sedenyutnya juga lebih besar, volume paru kurang lebih 10% lebih besar daripada wanita. Wanita mempunyai nadi istirahat yang sedikit lebih tinggi, meski denyut jantung maksimal sesuai umur sama untuk kedua jenis kelamin.


2.2 Sistem Energi

2.2.1 Sistem Energi ATP-PC
          ​Karena jumlah massa otot rangka pada wanita lebih sedikit pada wanita, maka jumlah cadangan  phospagen yang tersedia pada saat latihan juga sedikit. Perbandingan  kapasitas fungsional dari sistem ATP-PC antara pria dan wanita dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu, fast component of recovery oxygen measurements, Margaria anaerobic Power Test, rasio peforma / perbandingan peforma antara pria dan wanita.

2.2.2 Sistem Energi Anaerobik- Glikolisis
​         Wanita cendrung memiliki kadar asam laktat dalam darah yang lebih rendah dibandingkan dengan pria setelah latihan maksimal. Kadar asam laktat yang lebih rendah itu menunjukkan bahwa kapasitas sistem energi anerobik-glikolisis juga lebih rendah pada wanitta. Sama seperti sistem ATP-PC, salah satu alasan kapasitas sistem asam laktat lebih rendah pada wanita adalah jumlah massa otot yang lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa wanita berkemungkinan sedikit lebih mengalami kerugian ketika bersaing dalam kompetisi yang melibatkan sebagaian besar sistem asam laktat dibandingkan dengan pria.

2.2.3 Sistem Energi Aerobik
​       Seperti pada dua kapasitas anaerobik yang telah disebutkan sebelumnya, kemampuan aerobik maksimal (VO2 max) wanita juga lebih rendah dibandingkan dengan pria, sekitar 15 sampai 25%. Fox, (1993) mengatakan ada dua hal yang perlu diperhatikan :

1.Perbedaan VO2 max antara pria dan wanita ini tidak tampak pada usia muda dan paling jelas selama dewasa atau setengah baya. Hal ini berhubungan dengan fakta seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa perbedaan ukuran tubuh dan komposisi tubuh antara pria dan wanita sangat sedikit sebelum puberitas dan  perbedaanya sangat besar saat dewasa.

2.Perbedaan VO2 max antara dua jenis kelamin sangat kecil jika dinyatakan relatif terhadap dimensi ukuran tubuh seperti berat badan. Dan ini kembali lagi pada perbedaan ukuran tubuh dan komposisi antara 2 jenis kelamin ini. Karena metabolisme yang bekerja pada otot rangka menentukan kemapuan VO2 max. Perbedaan VO2 max antara pria dan wanita rendah jika Vo2max dinyatakan reatif terhadap massa tubuh tanpa lemak dan bahkan ke tingkat yang lebih rendah ketika
berhubungan dengan massa otot aktif. Pada kenyataannya dalam peforma atletik hanya yang mempunyai hubungan bermakna dibahas sebelumnya yaitu antara VO2 max dan total berat badan. Ini dikarenakan sebagian besar latihan dan kegiatan olahraga merupakan pergerakan  dari jumlah berat badan yang meliputi sebagian besar beban kerjanya.

        ​Seperti yang telah dibahas sebelumnya, wanita menunjukkan konsentrasi hemoglobin yang rendah daripada pria dan mereka cenderung memiliki jantung yang lebih kecil meskipun Besar jantung adalah relatif terhadap berat badan. Konsentrasi hemoglobin yang rendah berhubungan dengan kapasitas pengiriman oksigen yang rendah dalam darah dan jantung yang kecil berhubungan dengan volume maksimum detak dan keluaran jantung yang kecil pula. Disebabkan oleh pengangkutan oksigennya yang lebih rendah dan persentasi lemak tubuh yang lebih besar, wanita cenderung memperlihatkan nilai VO2 max (dalam berat badan relatif) yang relatif lebih rendah daripada pria. Pada orang dewasa tidak terlatih perbedaan nilai VO2 max dalam berat relatif kira- kira 20%. Perbedaan ini lebih sempit pada atlit yang terlatih, seperti contoh pada atlit daya tahan kelas dunia (pelari, perenang, pembalab sepeda) VO2 max pada pria lebih kurang 70ml/kg/men dan 80ml/kg/men pada wanita, Astrand (1967).
    ​Lebih rendahnya konsentrasi Hb pada wanita dewasa kadang- kadang dikaitkan dengan anemia/kekurangan zat besi. Anemia menandakan konsentrasi Hb dibawah normal dan menunjukkan keseimbangan negatif dari zat besi (umumnya asupan dan penyerapan zat besi tidak memadai). Kekurangan zat besi pada wanita dewasa berhubungan dengan pendarahan pada saat menstruasi.

2.3 Kekuatan

     ​Untuk luas penampang melintang yang sama, power otot wanita adalah 20-25% lebih rendah daripada pria. Hali ini disebabkan struktur histologisnya yang berbeda, yaitu karenaotot wanita mempunyai lemak yang lebih banyak, maka kepadatan serabut-serabut otot per luas menampang melintang yang sama lebih sedikit daripada pria. Misalnya kekuatan fleksor lengan pada wanita normal hanya sebesar 53-60% pria. Dalam perkembangannya pada masa anak-anak dan usia muda, pada awalnya tidak ada perbedaan yang signifikanantar gender dalam hal ratio berat badan terhadap kekuatannya, untu anak 13-14 tahun ratio itu praktis sama. 

       Jadi pada awal pubertas kekuatan anak-anak wanita dan pria kurang lebih sama. Tetapi pada saat dewasa, kekuatan wanita bertambah dengan ¼  nya sedangkan kekuatan pria bertambah dengan 2/3 nya. Ini berarti bahwa daya keterlatihan kekuatan pria lebih dari 2x daya keterlatihan wanita. Di bawah pengaruh hormon anabolic steroid perkembangan otot wanita dapat menjadi lebih baik, hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh unsur androgenik dari hormon anabolik tersebut, dan oleh karena itu hormon anabolic steroid dapat menimbulkan efek virilisasi (menimbulkan ciri-ciri kelamin pria).
​Wilmore, 1982 melaporkan bahwa nilai kekuatan gabungan adalah 30-40% lebih besar pada pria daripada wanita. Bagaimanapun, sebagian besar perbedaan tersebut disebabkan oleh kekuatan tubuh wanita  bagian atas yang jauh lebih rendah. Perbedaan jenis kelamin dalam kekuatan rupanya seluruhnya disebabkan oleh jumlah otot, bukan kualitas otot.

       Tentu saja, kekuatan adalah suatu kunci yang menentukan penampilan pada semua jenis olahraga yang memerlukan pemakaian tenaga untuk sasaran luar. Perbedaan pada berat badan dan massa otot ini mungkin dapat menjelaskan banyak perbedaan penampilan yang disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin pada kegiatan olahraga yang berhubungan dengan kekuatan.

​Fox, (1993) mengatakan perbedaan kekuatan antara pria dan wanita harus dikaji dari 3 sudut pandang :
1.Kekuatan absolut
2.Kekuatan dalam kaitannya dengan ukuran dan komposisi tubuh.
3.Kekuatan dalam kaitannya dengan ukuran otot

2.3.1 Kekuatan Absolut
​          Kekuatan abosolut merupakan kamampuan otot untuk menggunakan kekuatan secara maksimal tanpa memperhatikan berat badannya sendiri. Kekuatan absolut pada pria lebih kuat dibandingkan dengan wanita. Kekuatan otot umumnya pada pada wanita adalah sekitar dua pertiga kekuatan otot pria. Sebagai contoh, dibandingkan dengan pria wanita lebih lemah di dada, lengan dan bahu akan tetapi terkuat di otot kaki. Hal ini cenderung berkaitan dengan fakta bahwa pria dan wanita menggunakan kaki mereka untuk tingkat aktivitas yang sama, misalnya berdiri, berjalan, berlari, naik tangga dan lain-lain. Di sisi lain, wanita yang baru-baru ini  mempunyai minat yang kuat pada latihan beban dan mempunyai keterlibatan yang lebih besar dalam olahraga, memiliki sedikit kesempatan untuk menggunakan otot-otot ekstremitas atas mereka.

2.3.2 Kekuatan relatif terhadap ukuran dan komposisi tubuh
​        Sama halnya dengan kemampuan fungsional yang lain yang telah dibahas sebelumnya, perbedaan kekuatan antara pria dan wanita akan berkurang jika dikaitakan dengan ukuran tubuh. Kekuatan kaki per berat badan tanpa lemak sebenarnya hampir sama pada pria dan wanita. Fakta bahwa kekuatan kaki antara kedua jenis kelmin adalah sama  ketika dinyatakan per berat badan tanpa lemak baru-baru ini ditunjukkan pada kekuatan isokinetik. Mesikipun kekuatan isometrik dan isokinetik pada ektensor lutut pada kecepatan gerak yang lambat (misalnya, 60 derajat/men)  adalah sama antara pria dan wanita. Namun, kekuatan isokinetik pada kecepatan gerak yang lebih cepat (180-300 derajat/men) secara signifikan lebih besar pada pria. Perbedaan kekuatan antara pria dan wanita ini terkait dengan perbedaan jenis serat otot adan jenis serat otot yang digunakan.

2.3.3 Kekuatan dan ukuran otot
      Sejauh yang diketahui kekuatan reltif terhadap ukuran otot (dinyatakan sebagai luas penampang otot) adalah sama untuk pria dan wanita. Dengan kata lain meskipun kekuatan absolut pada wanita hanya sekitar 70% dari kekuaatan absolut pria akan tetapi  kualitas serat otot untuk menggerahkan kekuatan adalah sama atau tidak tergantung pada jenis kelamin.

2.3.4 Pengaruh Latihan Beban Pada Wanita
         ​Salah satu konsep yang paling disalahpahami oleh pelatih atau spesialis kebugaran  dari efek program latihan beban pada individu terutama pada wanita  adalah bahwa meskipun program latihan beban meningkatkan kekuatan juga menghasilkan otot yang menonjol dan akan berubah menjadi lemak ketika program tidak lagi dilanjutkan. Untuk itu perlu pemahaman secara mendalam mengenai kesalahpahaman dari konsep ini.

a.Peningkatan kekuatan
           Beberapa hasil penlitian menunjukkan kekuatan otot pada pria dan wanita bisa ditingkatkan melalui latihan beban.. Jumlah peningkatan kekuatan otot  yang dihasilkan adalah sama antara pria dan wanita kecuali pada bagian otot lengan. Wilmore (1982) mengatakan, dengan mengikuti latihan beban yang terprogram pria dan wanita mengalami sedikit perubahan dalam berat badan total, hilangnya lemak tubuh dan peningkatan pada massa otot. Kehilangan pada lemak tubuh cenderunglebih besar pada wanita sedangkan peningkatan pada massa otot cenderung lebih besar pada pria.

b.Hipertrofi otot
        Peningkatan kekuatan otot biasanya disertai dengan peningkatan serat otot. Akan tetapi peningkatan ini kurang menonjol pada wanita. Pada setiap kasus, peningkatan ketebalan  otot lebih besar pada pria daripada wanita. Peningkatan ketebalan otot yang terbesar pada wanita adala 0.6 cm. Terjadinya peningkatan ketebalan otot yang kecil ini dengan jelas menunjukkan bahwa latihan beban yang menyebabkan hipertrofi otot tidak akan mengakibatkan pembangunan otot secara berlebihan atau menghasilkan efek yang maskulin pada wanita. Hipertrofi otot diatur terutama oleh hormon testosteron yaitu sekitar sepuluh kali lebih banyak pada darah pria normal dibandingkan pada wanita normal. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah massa otot yag lebih kecil dan cadangan lemak subkutan lemak yang lebih besar pada wanita yang cendrung membuat wanita cadi lebih lembut dan mencirikan karakteristik sebagai seorang wanita.

2.4    Physical (aerobic) Trainability
2.4.1 Frekuensi, Durasi dan Intensitas Latihan Pada Wanita

2.4.1.1 Frekuensi

         ​​Frekuensi latihan adalah berapa kali seseorang melakukan latihan dengan intensitas cukup dalam satu minggu, Fox (1993). Frekuensi latihan yang efektif adalah 3-5 kali seminggu, sedangkan kurang dari 3 kali  seminggu tidak memberikan dampak pada tubuh (sajoto, 1995). Rata-rata pada mahasiswi perempuan perubahan fisiologis secara signifikan dapat diwujudkan dengan program latihan yang dilakukan sedikitnya dua atau tiga kali perminggu. Sama halnya dengan pria, atlet wanita beraltih 5 atau 6 kaliperminggu. Maanfaat fisiologis dari seringnya sesi latihan adalah untuk kebugaran dan juga untuk meningkatkan keahlian atau strategi pada atlet, Fox (1993).

2.4.1.2 Durasi.
​      Durasi latihan adalah jangka waktu yang digunakan dalam setiap latihan dimana itensitas harus tetap dipertahankan. Latihan dilakukan minimal selama 20 menit dn lama latihan yang optimal adalah 30-45 menit. Peningkatan yang signifikan dalam kebugaran telah dicapai oleh wanita muda paling sedikit dengan latihan selama 4 minggu dengan 5hari sesi latihan perminggu. Selain itu dengan latihan selama 6-7 minggu dengan sesi  latihan 2-5 hari perminggu dan 10 minggu dengan sesi latihan 2 hari perminggu serta 14 minggu dengan 3 hari  perminggu  dapat juga telah menghasilkan perbaikan yang signifikan dalam kapasitas aerobik dan anaerobik, Fox, (1993).

2.4.I.3ntensitas
​      Intensitas latihan adalah takaran atau berat ringannya latihan, Djawa (2009). Menurut Sajoto (1995) intesitas latihan merupakan dosis latihan yang harus dilakukan seseorang berdasarkan program latihan yang telah ditetapkan. Dari semua informasi yang diperoleh pada pelatihan fisik untukpria dan wanita, intensitas latihan merupakan hal paling penting dalam mewujudkan perubahan yang signifikan.Terdapat intesitas ambang batas yang terjadi diatas perbaikan yang signifikan tersebut. Intensitas ambang batas ini  bervariasi pada setiap individu dan berhubungan dengan tingkat kebugaran. Penentuan  intensitas latihan yang tepat adalah berdasarkan denyut jantung dan ukuran ambang batas anerobik, Fox (1993).

2.4.1.4  Perubahan Fisiologis Setelah Latihan
        ​​Suda terbukti dengan jelas bahwa manfaat pada wanita dalam melakukan latihan adalah sama seperti pria danmanfaat ini dibawa melalui perubahan fisiologis yang sama, Fox. (1993). Hal ini berlaku untuk kinerja maksimal serta untuk usaha submaksimal. Menurut Kusnanik, (2011) Latihan akan menyebabkan adaptasi sedemikian rupa sehingga tubuh mampu meningkatkan kapasitas maksimal aerobik (VO2 max) dan daya tahan secara keseluruhan.

2.4.1.5 Latihan Kapasitas Kerja Maksimal dan Perubahannya.
      ​Penenlitian di swedia memberikan program latihan pada wanita non atlet usia 19 dan 30 tahun dengan bicycle ergometer selama 2 sampai 3 kali perminggu selama 7 minggu. Setiap sesi latihan berlangsung selama 30 menit dandan terdiri dari 6 interval, kapasitas bersepeda 70% untuk 3 menit dan 2 menit untuk pemulihan. Fox, (1993), perubahan fisiologis yang terjadi meliputi :

1.Peningkatan yang signifikan pada sistem kapasitas oksigen maksimal (VO2 max). Perubahan ini sangat berhubungan dengan peningkatan volume darah, total hemoglobin, dan ukuran jantung.

2.Peningkatan yang signifikan pada penumpukan asam laktat dalam darah setelah latihan maksimal.

3.Peningkatan yang signifikan pada cardiac ouput maximal(curah jantung maksimum) dan stroke volume (isi sekuncup)
        ​Hasil dari penelitian ini telah dikonfirmasikan kepada penilitian lain yang melibatkan kaum wanita muda dan terjadi penambahan dari kapasitas anerobik pada wanita secara signifikan telah setelah mengikuti latihan 3 kali perminggu selama 6 minggu. Besarnya perubahan yang muncul itu dapat dibandingkan dengan pria., Fox (1993)

2.4.1.6 Latihan pada submaksimal dan Perubahannya
       ​Seperti yang telah dijelaskan diatas, perubahan fisiologis dari program latihan fisik  pada dasarnya sama pada kedua jenis kelamin begitu juga kaitannnya dengan respon latihanpada kapaitas submaksimal. Berikut ini beberapa perubahan yang terjadi setelah mengikuti latihan dengan bicycle ergometer pada kapasitas submaximal dengan sesi latihan 2 dan 3 kali perminggu selama 7 minggu, Fox (1993) :

1.Tidak ada atau sedikit perubahan pada steady state VO2max
2.Penurunan yang signifikan pada asam latat setelah latihan
3.Penurunan deyut nadi
4.Peningkatan yang signifikan pada stroke volume (volume sekuncup)
5.Tidak ada atau sedikit perubahan pada cardiac output.

​      Dengan latihan kerja submaximal menjadi lebih ringan dan dapat mengurangi stres fisiologis. Perlu diketahui bahwa sebagian besar dari kerja yang telah dilakukan selama sesi latihan adalah submaximal, Fox (1993)

2.4.1.7 Perubahan Biokimia 
2.4.1.7.1Perubahan Sistem Anerobik
1.Peningkatan kapasitas sistem Phosphagen (ATP-PC)
     Fox, (1993) meningkatnya kapasitas sistem ATP-PC dalam otot rangka disebabkan oleh dua perubahan kimiawi yaitu : (1) meningkatnya cadangan ATP-PC otot dan (2) meningkatnya aktifitas enzim yang berperan dalam sistem tersebut yaitu enzim ATPase yang mengkatalis penguraian ATP. Dan juga Myokinase (MK) serta Creatine Phosphokinase (CPK) yang berperan dalam sintesa ATP, Ross (2001).

2.Peningkatan aktivitas enzim glikolitik
         Pada beberapa penelitian, aktifitas enzim phosphofructokinase (PFK) yang berperan dalam proses awal glikolisis telah terbukti meningkat karena latihan, Fox (1993). Selain itu juga terdapat peningkatan enzim glikolitik lainnya seperti laktat dehidrogenase dan glokogen phosporilase setelah melakukan olahraga dalam jangka waktu pendek (<10 detik) mupun lebih lama (>10 detik) (Ross, 2001). Meningkatnya aktifitas enzim tersebut akan meningkatkan kecepatan dan jumlah pemecahan glikogen menjadi asam laktat sehingga sumber ATP dari asam laktat akan meningkat (Fox, 1993).

3.Hipertrofi serabut otot cepat (fast twitch muscle fibers)
2.4.1.7.2 Perubahan Sistem Aerobik

1.Peningkatan konten mioglobin
       Miglobin merupkan sejenis pigmen seperti hemoglobin pada darah yang berfungsi untuk mengikat oksigen pada otot. Fungsi utamanya adalah untu metransport oksigen dari membran sel kepada mitokondria. Latihan dapat menyebabkan peningkatan kandungan mioglobin otot dimana hal ini hanya terjadi pada otot yang bereran aktif pada proses latihan tesebut dan dipengaruhi oleh frekuensi latihan, Fox (1993).

2.Meningkatkan oksidasi karbohidrat dan metabolisme lemak
       Latihan meningkatkan kapasitas otot rangka untuk memecah glikogen dengan adanya oksigen (oksidasi) menjadi CO2 + H2O dengan produksi ATP. Dengan kata lain kapasitas otot untuk menghasilkan energi secara aerobik ditingkatkan. Bukti untuk perubahan ini adalah peningkatan kekuatan aerobik maksimal (VO2 max). Peningkatan kemampuan sel otot untuk mengoksidasi karbohidrat ini disebabkan oleh 2 faktor utama yaitu : (1) peningkatan jumlah ukuran dan luas permukaan membran mitokondria otot rangka dan (2) peningkatan dalam tingkat aktivitas atau konsentrasi enzim yang terlibat dalam siklus Krebs dan transport elektron.Meningkatnya kemampuan untuk mengoksidasi lemak pada latihan disebabkan oleh 3 hal utama : (1) meningkatnya cadangan trigliserida (2) meningkatnya penggunaan lemak sebagai bahan bakar (3) meningkatnya enzim yang berperan dalam aktivasi transport, serta oksidasi asam lemak, Fox (1993).

3.Hipertrofi serabut otot lambat (slow twitch musclefibers)

2.4.1.7.3 Perubahan Komposisi Tubuh
       ​Perubahan pada komposisi tubuh yang disebabkan oleh latihan fisik sama dengan yang dijelaskan pada efek setelahlatihan beban. Dengan kata lain wanita dapat : (1) menurunkan lemak tubuh (2) tidak terjadi perubahan atau sedikit peningkatan pada berat badan tanpa lemak (3) sedikit penurunan dari berat tubuh total khususnya pada penurunan lemak tubuh. Penurunan lemak tubuh tergantung dari jumlah kalori yang masuk dan dikeluarkan, Fox (1993). Hal serupa juga diutarakan ole Mc. Ardle, (2007) yang menyatakan bahwa latihan yang teratur sedikit peningkatan pada massa tubuh bebas lemak dan berlaku untuk kedua jenis kelamin.

2.4.1.7.4 Perubahan Lain Akibat Latihan
​      Dengan latihan fisik jangka pendek intesitas sedang (7minggu, 2 atau 3 kali perminggu) akan menyebabkan penurunan yang signifikan pada kadar kolesterol darah,penurunan serum ion, penurunan pada tekanan darah sistol dan diastol pada saat istirahat. Perubahan pada kolesterol dan tekanan darah memberikan manfaat akan tetapi tidak terhadap penurunan serum ionSerum ion merupakan jumlah zat besi dalam peredaran darah. Meskipun sebagian besar penelitian belum memastikan temuan tersebut tetapi ini perlu diingat khususnya latihan fisik pada wanita yang juga telah banyak kehilangan serum ion pada saat menstruasi. Keuntungan tambahan dari latihan submaximal ini adalah meningkatkan toleransi panas yang dibuktikan dengan pengurangan suhu inti, detak jantung yang lebih rendah dan pertambahan keringat, Fox (1993).

2.4.1.7.5 Perubahan Akibat Detraining
​      Keuntungan yang didapat dari latihan dapat hilang dalam periode waktu yang singkat setelah latihan dihentikan. Periode dimana dilakukan penghentian latihan dinamakan dengandetraining. Perubahan tersebut akan tampak pada saat 4-8 minggu setelah penghentian latihan seperti penurunan metbolisme, sistem kardiovaskuler, dan perubahan pada enzim otot. Penurunan yang cukup besar pada kapasitas maksimal (VO2 max) yakni sekitar 6-7%, total Hb, dan penurunan volume darah setelah hanya 1 minggu mengalamibed rest total. Laju penurunan ini  antara pria dan wanita adalah sama.
​        Pemeliharaan latihan memberikan keuntungan yang sama pada pria dan wanita. Dengan kata lain, pemeliharaan latihan menuntut intensitas kerjaa yang sama tetapi dengan sedikitnya sesi latihan per minggu dibandingkan dengan latihan rutin juga dapat mempertahankan keuntungan yang banyak dari latihan, Fox (1993).

Sumber : FOX :1993

 

No comments:

Post a Comment